
mksportx.net – Sejarah togel di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik, ekonomi, dan sosial masyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya, togel dan berbagai bentuk lotre pernah berada di wilayah abu-abu antara legal dan ilegal. Pemerintah beberapa kali mencoba mengatur, bahkan memanfaatkan sistem undian untuk kepentingan pembangunan, sebelum akhirnya mengambil sikap pelarangan secara tegas.
Pembahasan tentang togel dalam konteks politik bukan hanya soal perjudian, tetapi juga menyangkut kebijakan negara, tekanan masyarakat, serta peran agama dalam pembentukan regulasi publik. Perubahan sikap pemerintah terhadap togel menunjukkan bagaimana kebijakan publik di Indonesia sering dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik secara bersamaan.
Masa Awal: Lotre dan Perjudian Sebelum Regulasi Ketat
Pada masa awal kemerdekaan hingga sekitar 1960-an, berbagai bentuk perjudian termasuk lotre masih cukup marak di masyarakat. Kondisi ekonomi yang sulit saat itu membuat sebagian masyarakat mencari jalan cepat untuk mendapatkan penghasilan, termasuk melalui perjudian angka.
Beberapa jenis lotre bahkan pernah beroperasi secara semi resmi, seperti lotre buntut, toto, hingga lotre nasional. Namun, semakin banyak kritik muncul karena dampak sosial yang dirasakan masyarakat, terutama terkait kemiskinan dan moral sosial.
Situasi ini kemudian mendorong negara untuk mengambil langkah regulasi yang lebih tegas melalui hukum nasional.
Era Orde Baru: Pelarangan Resmi dan Regulasi Negara
Salah satu titik penting dalam sejarah politik perjudian di Indonesia adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian. Undang-undang ini memperkuat larangan perjudian dan memberikan dasar hukum bagi negara untuk menertibkan praktik perjudian di seluruh Indonesia.
UU ini menggantikan aturan kolonial lama dan menyesuaikan dengan kondisi sosial Indonesia pasca kemerdekaan. Regulasi tersebut menegaskan bahwa perjudian dianggap sebagai aktivitas yang perlu dikendalikan karena dampak sosialnya.
Namun secara politik, situasi tidak sepenuhnya sederhana. Meskipun perjudian secara resmi dilarang, pemerintah pada periode tertentu tetap mengizinkan model undian tertentu dengan alasan penggalangan dana sosial dan pembangunan.
Munculnya Lotre Sosial dan Strategi Politik Ekonomi
Setelah pelarangan perjudian secara formal, muncul berbagai bentuk undian sosial seperti Lotere Dana Harapan dan kemudian Sumbangan Sosial Berhadiah (SSB). Program-program ini secara resmi ditujukan untuk membantu pendanaan kegiatan sosial seperti pendidikan dan bantuan masyarakat.
Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, sistem undian ini berkembang besar. Perputaran uangnya bahkan mencapai angka sangat tinggi dan menjadi salah satu sumber dana sosial negara pada masa itu.
Secara politik, kebijakan ini menunjukkan dilema pemerintah: di satu sisi ingin mengontrol perjudian, tetapi di sisi lain melihat potensi ekonomi dari sistem undian yang dikelola negara.
Kontroversi Besar: Era SDSB dan Tekanan Politik Masyarakat
Salah satu momen paling penting dalam sejarah politik togel Indonesia adalah munculnya SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) pada akhir 1980-an. Program ini diluncurkan kembali sekitar 1989 dan langsung memicu kontroversi besar.
Organisasi keagamaan, terutama kelompok Islam, menolak SDSB karena dianggap tetap merupakan bentuk perjudian. Bahkan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menyatakan program tersebut tidak diperbolehkan secara agama.
Penolakan tidak hanya datang dari tokoh agama, tetapi juga dari masyarakat luas. Banyak demonstrasi terjadi, termasuk protes mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Tekanan politik ini akhirnya memaksa pemerintah mengambil langkah besar.
Tahun 1993: Penghapusan SDSB dan Kemenangan Tekanan Publik
Pada 1993, pemerintah Indonesia akhirnya mencabut izin SDSB setelah gelombang protes nasional dari kelompok agama dan masyarakat.
Keputusan ini dianggap sebagai salah satu contoh langka pada masa Orde Baru ketika tekanan masyarakat berhasil mempengaruhi kebijakan pemerintah pusat.
Tokoh agama menyambut baik penghapusan tersebut dan menganggapnya sebagai kemenangan aspirasi rakyat.
Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah politik perjudian di Indonesia, karena menunjukkan kekuatan hubungan antara politik negara, tekanan sosial, dan legitimasi moral.
Era Reformasi hingga Digital: Pendekatan Pelarangan Total
Setelah era Reformasi, sikap negara terhadap perjudian semakin tegas. Hukum pidana tetap mempertahankan larangan perjudian, dan kebijakan diperluas ke ranah digital.
Undang-undang ITE 2008 secara eksplisit melarang perjudian online. Pemerintah juga aktif memblokir ratusan ribu situs perjudian dalam beberapa tahun terakhir.
Pendekatan ini menunjukkan perubahan strategi politik: dari sebelumnya mencoba mengelola dan mengontrol, menjadi fokus pada pemberantasan total, terutama di era internet.
Togel dan Politik Moral Negara
Dalam konteks politik Indonesia, togel sering menjadi simbol konflik antara kepentingan ekonomi negara dan nilai moral masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tekanan sosial yang kuat terhadap kebijakan perjudian.
Faktor agama, stabilitas sosial, serta legitimasi politik menjadi pertimbangan utama dalam pembentukan kebijakan. Inilah yang membuat sejarah togel di Indonesia sangat berbeda dibanding negara lain yang melegalkan lotre sebagai sumber pendapatan negara.
Kesimpulan Sejarah Politik Togel di Indonesia
Sejarah politik togel di Indonesia menunjukkan perjalanan panjang antara legalisasi terbatas, pengelolaan negara, hingga pelarangan total. Dari era lotre sosial, SDSB, hingga kebijakan digital modern, setiap fase mencerminkan kondisi politik dan sosial zamannya.
Kasus SDSB menjadi titik balik penting karena menunjukkan bahwa tekanan masyarakat dan faktor agama bisa mengubah arah kebijakan negara. Saat ini, pendekatan pemerintah lebih fokus pada pelarangan dan pengawasan ketat, terutama di era digital.
Pada akhirnya, sejarah togel di Indonesia bukan hanya cerita tentang perjudian, tetapi juga tentang hubungan antara negara, masyarakat, agama, dan kekuasaan dalam menentukan arah kebijakan publik.